Bab 3. Parameter Pemotongan Mesin Frais
BAB III
PARAMETER PEMOTONGAN MESIN FRAIS
Tujuan
Setelah
mempelajari materi ini, dengan melalui mengamati, menanya, pengumpulan data,
mengasosiasi dan mengkomunikasikan, peserta didik dapat:
1.
Menetapkan
kecepatan potong (Cutting speed – Cs) pada proses pengefraisan.
2.
Menerapkan
kecepatan potong (Cutting speed – Cs) pada proses pengefraisan.
3.
Menghitung
putaran (Revolotion Permenit – Rpm) pada proses pengefraisan.
4.
Menerapkan
putaran (Revolotion Permenit – Rpm) pada proses pengefraisan.
5.
Menghitung
kecepatan pemakanan (feed) pada proses pengefraisan.
6.
Menerapkan
kecepatan pemakanan (feed) pada proses pengefraisan.
7.
Menghitung
waktu pemesinan pada proses pengefraisan.
8.
Menerapakan
waktu pemesinan pada proses pengefraisan.
A.
Kecepatan Potong (Cutting Speed)
Pada
saat proses pengefraisan berlangsung,
cutter berputar memotong benda kerja yang diam dan menghasilkan potongan atau
sayatan yang menyerupai chip, serpihan-serpihan tersebut dapat juga berbentuk
seperti serbuk (tergantung dari bahan). Kemampuan mesin menghasilkan panjang
sayatan tiap menit disebut kecepatan potong (sayat), yang diberi symbol Cs (Cutting
Speed). Apabila ukuran diameter alat potong dan kecepatan
putaran mesin diketahui, maka untuk
mencari kecepatan pemotong rumusnya adalah:
Cs = π.d.n (meter/menit)
Keterangan:
Cs = Cutting speed
π = Konstanta (3,14)
d = Diameter cutter (mm)
n = Putaran spindel (Rpm)
Pada
prinsipnya kecepatan pemotongan suatu material tidak dapat dihitung secara
matematis. Karena setiap material memiliki kecepatan potong sendiri-sendiri
berdasarkan karakteristiknya dan harga kecepatan potong dari tiap material ini
dapat dilihat didalam table yang terdapat didalam buku atau referensi.Untuk
lebih jelasnya mengenai harga kecepatan
potong dari tiap material dapat
dilihat pada table di bawah ini.
|
Bahan |
Cutter Frais HSS |
Cutter
Frais Karbida |
||
|
m/men |
Ft/min |
m/men |
Ft/min |
|
|
Baja
lunak |
18-21 |
60-70 |
30-250 |
100-800 |
|
Besi
Tuang |
14-17 |
45-55 |
40-150 |
150-500 |
|
Perunggu |
21-24 |
70-80 |
90-200 |
300-700 |
|
Tembaga |
45-90 |
150-300 |
150-450 |
500-1500 |
|
Kuningan |
30-120 |
100-400 |
120-300 |
400-1000 |
|
Alumunium |
90-150 |
300-500 |
90-180 |
-600 |
B.
Kecepatan Putar Spindel
Sebagaimana
telah dijelaskan pada materi mesin bubu, yang dimaksud kecepatan Putaran Mesin
adalah, kemampuan kecepatan putaran mesin dalam satu menit. Dalam hal ini mengingat nilai kecepatan
potong untuk setiap jenis bahan sudah ditetapkan secara baku, maka komponen
yang bisa diatur dalam proses penyayatan adalah putaran mesin/benda kerja. Dengan
demikian rumus untuk menghitung putaran adalah:
Rpm
Karena satuan Cs dalam
meter/menit sedangkan satuan diameter pisau/benda kerja dalam millimeter, maka
rumus menjadi:
![]()
Keterangan:
Cs = Kecepatan potong
(m/menit)
n = Putaran Spindel (Rpm)
d = Diameter cutter (mm)
π = Konstanta (3,14)
Contoh Soal:
Diketahui Baja lunak akan difrais menggunakan alat potong
berdiameter 80 mm dan (CS = 30 m / menit). Hitung kecepatan putaran mesinnya!
Jawab:
=
= 199,42 Rpm
Hasil perhitungan di atas pada dasarnya
sebagai acuan dalam menyetel putaran mesin agar sesuai dengan putaran mesin
yang tertulis pada tabel yang ditempel di mesin tersebut.Artinya, putaran mesin
aktualnya dipilih dalam tabel pada mesin yang nilainya paling dekat dengan hasil
perhitungan di atas.
C.
Kecepatan
Pemakanan (Feeding)
Pada
umumnya mesin frais, dipasang tabel kecepatan pemakanan atau feeding
dalam satuan mm/menit.Jadi, misalnya pada mesin disetel besar kecepatan
pemakannya 28, artinya kecepatan pemakanan pisau frais sebesar 28 mm/menit.
Makin kecil kecepatan pemakanan pisau frais, kekasarannya makin rendah atau
lebih halus. Tabel besar pemakanan pada mesin baru berlaku jika mesin frais
tersebut dijalankan dengan cara/ mode otomatis.
Menghitung kecepatan pemakanan/feeding
= F (mm/menit)
F (mm/menit) = f
(mm/putaran) x n ( put/menit)
Dimana, f adalah bergesernya
pisau frais (mm) dalam satu putaran.
Contoh Soal:
Ditentukan n = 600 putaran/menit,
f pada tabel ditetapkan 0,22 mm/putaran. Berapa kecepatan pemakanannya (F
mm/menit)!
Jawab:
F = 0,22 mm/putaran x 600
putaran/men = 132 mm/menit.
Pengertiannya adalah,piasu frais
bergeser sejauh 132 mm selama satu menit.
D.
Perhitungan Waktu Pemesinan Frais
Berdasarkan
prinsip kerja mesin frais dan gambar diatas, untuk mencari waktu pengefraisan
dapat dihitung dengan rumus:
Waktu Pemesinan (tm) =
(menit)
Tm = ![]()
L = l + la + lu
S = s.t.n
Keterangan:
t = jumlah mata sayat alat potong
s = pemakanan tiap mata potong
n = Rpm
L = jarak tempuh pemakanan
keseluruhan
l = panjang benda kerja
la = kelebihan awal
lu = kelebihan akhir
S = pemakanan setiap menit
Contoh Soal:
Bahan ST 41, panjang 250 mm, difrais menggunakan pisau jari dengan
mata sayat 4, S= 0,2 dan n = 400 rpm.
Hitung tm, bila (la) = 30 mm dan (Lu) = 30 mm.
Jawab :
S = s .t .n = 0,2 . 4 . 400 = 320 mm/ menit
L = l + la + lu = 250 + 30 + 30 = 310 mm
Tm =
=
= 0,96 menit
E-MODUL